Monday, July 26, 2010

Trust in Allah



DO NOT LOSE HOPE, TRUST IN ALLAH SWT




All gain or loss lies only in Allah SWT's control. Allah Ta'ala says:

"If Allah helps you, none can overcome you, and if He forsakes you, who is there after Him who can help you? And in Allah alone let the believers put their trust."
(Al-Imran: 160)

Along with taking practical steps and putting in the utmost effort for constructive work and self-improvement, keep complete faith and trust in Allah's Being and Powers.





ALLAH'S PROMISES ARE TRUE



Avoid hopelessness and always remain hopeful of Allah's help.

"O you who believe! If you help Allah, He will help you and make your foothold firm." (Muhammad: 7)

"Verily Allah will help those who help His (Cause). Truly Allah is All-Strong, All-Mighty."
(Al-Hajj: 40)

"So do not become weak, nor be sad, and you will be superior if you are indeed believers." (Al-Imran: 139)
.
.
.
.


But if we abandon Allah's Way then how should His help come?



hurm...


A true believers we must be !


Ibn `Abbas (may Allah be pleased with him) reported:

I was (once) behind the Messenger of Allah (peace be upon him) when he said to me,

“Boy, I teach you (a few) words: Remember Allah, and He will protect you. Remember Allah(observing His commands and avoiding His prohibitions), and you will find Him close to you. When you have to ask for something, ask of Allah. When you seek help, seek Allah’s help. Believe firmly that if all the creation desires to benefit you in anything, they can never benefit you, but that which Allah has decreed for you. If they all unite to harm you, they will not be able to harm you in anything, but that which Allah has decreed for you.”

(At-Tirmidhi)


p/s : we must have strong and deep faith and trust in Allah. Allah knows everything and He is with us wherever we are. He has power and might. he is wise and merciful. We should put our trust in Allah in all situations. wheter happy or sad, whether succesful or confronted with difficulties and problems. Tawakal ilallah...

O Allah.. please give me a strength !

Patah Hati

Kau tidak seperti dulu
yang ku kenali dulu
rupa hilang seri
manakah manisnya

kau tidak seperti dulu
yang ku kenali dulu
madah tak berlagu
manakah girangnya

patah hati
jangan terdampar sepi
jangan tersungkur mati
patah hati
jangan leburkan mimpi
jangan memakan diri

bukankah tuhan ciptakan malam
untuk beradu menanti siang
bukankah tuhan titiskan hujan
menanti limpah kemarau panjang





Thursday, July 22, 2010

Life : Ekstrim ke ??


Photobucket


" kakak, jangan la ektstrim sangat hingga menyusahkan diri sendiri." bicara seorang ibu.

" hurm, kakak.. tak rasa susah pun.." cik mus'ab.



getus hati kecilku..

" ekstrim eh ?"

" sangat-sangat taksub ?"

" bagus jugak aku ni eh.., tsiqah! hehehe"

"tsiqah dengan islam.. "



Bila pergi konsert artis barat ! melompat -lompat! tergedik-gedik! terkinja-kinja macam beruk !

tiada siapa pun yang nak kata diorang ni EKSTRIM. Dah la nak pergi konsert tu aje pun kena bayaran ratusan ringgit.

My Chemical Romance Live in Kuala Lumpur 2007

mahal kan??



ramaikan ??


masam nyer muka. mcm tahu2 jer saya tulis fasal dia. hoho
.
.
.
.
.

Ha ! tak de sapa pun nk kata diorang ni Ekstrim !!

EKSTRIM dengan DUNIA !!


hurm,

tetiba..

terlintas difikiran fasal WAHAN.


Apa itu WAHAN ?

Daripada Tsauban r.a. berkata, Rasulullah s.a.w. bersabda;


“Hampir tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa dan seluruh dunia akan datang mengerumuni kamu bagaikan orang-orang yang hendak makan mengerumuni talam hidangan mereka”. Maka salah seorang sahabat bertanya “Apakah dari kerana kami sedikit pada hari itu?” Nabi s.a.w. menjawab, “Bahkan kamu pada hari itu banyak sekali, tetapi kamu umpama buih di waktu banjir, dan Allah akan mencabut rasa gerun terhadap kamu dari hati musuh-musuh kamu, dan Allah akan mencampakkan ke dalam hati kamu penyakit ‘wahan’.”


Seorang sahabat bertanya, “Apakah wahan itu hai Rasulullah?” Nabi kita menjawab,

“Cinta pada dunia dan takut pada mati.”



(Riwayat Abu Daud)




Manusia sekrang sangat taksub pada dunia kan ? kan ?





Sunday, July 18, 2010

JOM !



Name: Journey Of a Muslim (JOM!)
Date: 26-28 July 2010
Venue: Kompleks Rakan Muda Daerah Klang, Lot 43204, Jalan Klang Perdana, Sementa 42100 Klang Selangor.
Open for: Will-be-Undergraduate students at United Kingdom and Ireland

Food and accommodation will be provided.






It's FREE !!






Mari ! Mari kita pergi JOM !!! hehe




p/s : haish ! Cik Mus'ab yg x fly ni pun kepingin nak pegi... huh! rugi la sapa yg x pegi tu ! lalala.

Friday, July 16, 2010

Life : Berubah (ii)

Photobucket

sambungan dari entri Life:Berubah


PERDAGANGAN


" Wahai orang- orang yang beriman ! mahukah kamu Aku tunjukkan perdagangan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih ? "
[ As-saff 61 : 10 ]


Perdagangan dengan Allah. Business??

Bukan sebarangan perdagangan. Ini adalah perdagangan yang dapat menyelamatkan kita dari azab Allah. Itu pun kalian tak nak involve ke ? huhu


Bagaimana ??


"( yaitu ) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahui, "
[As saff 61 : 11]



syurga menjadi hadiah..

" Niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam syurga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam syurga 'Adn. Itulah kemenangan yang agung."
[ As-saff 61 :12 ]


Wah... best nya ! dapat syurga lagi. Itu pun kalian tak nak jugak ? Sudah la Allah selamatkan kalian, lepas tu Allah nak bagi syurga lagi.

Baiknya Allah. Sweetnya Allah.

ramai dari kita, apabila di tanya..

"nak masuk syurga tak ?"

mereka menjawab..

"nak..nak..! "

Tapi, sedarkah kita.. Syurga itu terlalu tinggi harganya.

Hanya insan terpilih sahaja bisa memiliknya.


kalian rasa..

dengan amal yang kita dah laksanakan sekarang ni...

layakkah kita ??

layakkah ??

Layakkah kita memilikinya ?

Astaghfirullah hal 'azim..

Takutnya..

Takut andai amal kita tidak diterima oleh-Nya.

.
.
.
.
.


sahabat sekalian..



Allah dah tunjukkan jalan kepada kita.

kitalah yang memilihnya..



sama ada menjadi kufur atau beriman.




sekali lagi di ingatkan..










bersambung.

Thursday, July 15, 2010

7 Maratib Amal



7 steps for those who called themselves as a true muslim. lets start from the beginning.(from Hassan Al Banna)




Tuesday, July 13, 2010

Tinta Murabbi

Astaghfirullah..astighfirullah..astighfirullah…


Alhamdulillah, Allah masih memberi peluang untuk menghirup udara segar hari ini. Bersyukur kerna sampai hari ini, firman-firman masih berlagu rancak menyentuh hati yang sangat mudah berubah ini.


Sudah lama tidak mencoret rasa hati di sini. Kekangan waktu membuatkan tiap rasa di hati bagaikan harus dibiarkan terpenjara disitu, sampai satu saat segalanya menjadi hilang ditiup suasana lingkungan. Namun, mungkin itu yang terbaik.


Tarbiyyah dan da’wah. Kadang-kadang merasakan diri sudah cukup mengerti dengan makna disebalik dua istilah itu. Terkadang, dalam mengukur kefahaman insan lain, membandingkan sesama insan lain menjadikan diri seakan tidak adil. Adanya ketidak adilan disitu walau diri berusaha untuk menjadi cukup adil.


Apakah jika ‘adik’ berbeza pendapat atau tidak bersetuju dengan tindakan ‘kakak’ itu bermakna adik itu masih belum faham?begitu mudahkah untuk mengukur tahap kefahaman seseorang?atau mungkin jika adik itu pandai berkata-kata, speak out, banyak cakap menjadikan dia orang yang faham lebih berbanding adik yang kurang bercakap?


Terkadang insan sangat mudah mengambil kesimpulan dari sikap seseorang. Murabbi seakan mengenal mutarabbi seperti mana ibu mengenal anaknya, namun kenyataan, murabbi hanya pandai membuat kesimpulan seminggu sekali tentang mutarabbi-mutarabbinya. Berjumpa pun jarang melainkan dalam usrah, namun bercakap seolah-olah dia cukup kenal dengan adik didikannya. Apatah lagi untuk adik-adik yang bukan dibawah jagaannya, men’judge’ sebulan sekali atau mungkin setahun sekali. Definisi ibu bukanlah orang yang mengambil tahu tentang anaknya hanya ‘bila perlu’.


Bukan sedikit juga murabbi yang mengatakan ruh itu lebih utama dari kerjanya. Biar dia kurang berkerja, asal hubungan dengan Allah tetap maintain. Banyak juga yang mengatakan kefahaman itu di’jugde’ berdasarkan apa tujuan dia berkerja. Kerja akibat ditolak ruh kehambaan padaNya itu yang terbaik. Benar. Namun sayang, hakikatnya kefahaman mutarabbi tetap di’judge’ berdasarkan banyaknya kerja yang dibuat mutarabbi tanpa mengira sedikitpun sebenarnya apakah sang mutarabbi bergerak dengan ruh ataupun tidak. Bila melihat mutarabbi masih tidak berubah walau sudah lanjut usia dalam tarbiyyah dan da’wah, barulah istilah bergerak dengan ruh itu muncul kembali.


Terkadang, terlalu tegas dinyatakan ‘berkerja’ itu sangat penting, sampai banyak yang berada dalam tarbiyyah ini seolah disogok dengan gelaran ‘kita da’ie, kita kena berkerja’ tanpa mereka tahu dan faham apa tujuan mereka berkerja. Ada murabbi yang mementingkan haraki, sampai masalah peribadi mutarabbi terabai. Sedangkan sang murabbi itu yang kuat mengatakan kita tidak boleh mengabaikan masalah peribadi mutarabbi. Bertanya tentang keadaan diri mutarabbi di tiap kali qadhaya, mungkin hanya untuk ‘cukup syarat’, namun jauh dalam mengambil peluang untuk lebih memahami adik mutarabbinya melalui luahan rasa mereka. Mutarabbi yang sudah bergelar murabbi terhadap mad’u yang lain pasti akan kuat dihadapan mad’unya. Namun dihadapan murabbinya sendiri, sekuat mana pun dia pasti dia akan ceritakan apa yang harus diceritakan kepada murabbinya atas dasar murabbinya adalah guru maupun ibu, tempat dia mencari penyelesaian. Atau mungkin juga atas dasar hubungan murabbi-mutarabbi dimana sang mutarabbi akan tergerak untuk mengadu pada murabbinya walau hakikatnya masih belum ‘terbiasa’ dengan murabbinya. Semua da’ie berusaha untuk menjadi kuat dan menjadi mereka yang berjiwa besar yang akan menjadikan masalah besar nampak kecil dimatanya. namun itu tidak bermakna ‘mengadu’ tentang masalah diri menjadikan mereka berjiwa kecil atau dapat di’judge’ sebagai orang yang masih belum faham. Jangan sampai mutarabbi menjadi takut untuk bercerita tentang masalah peribadi akibat keperibadian murabbi yang terlampau mementingkan haraki. Biarkan mutarabbi tidak bercerita kerna dia sendiri rasa masalah itu adalah yang kecil cuma, dan bukannya kerna takut di’judge’ masih belum faham.


Terkadang, murabbi terlampau inginkan adik-adiknya menonjol sebagai orang yang dikatakan sudah faham dan sering membandingkan dengan adik-adik murabbi yang lain. Sedangkan selama ini ditegaskan semua adik adalah adik kita, dan kita harus sama-sama berusaha fahamkan mereka. Sudah benar kita sama-sama berbincang tentang adik bersama-sama, namun sayang hakikat ‘adik aku, aku yang didik..adik kau, kau yang didik’ masih tetap berjalan.


Suasana lingkungan maupun waqi’ di sesuatu tempat sangat memberi kesan kepada da’wah sang da’ie. Ada tempat yang kelebihan mad’u dan ada tempat yang kekurangan mad’u tetapi kelebihan da’ie. Sudah lumrah, peranan seorang da’ie sebagai penyeru dan penyampai kebenaran menjadikan hakikat diri terasa kekurangan andai tidak ‘memberi’. Keperibadian para da’ie juga berbeza. Ada yang mudah menyampaikan, ada yag masih teragak-agak dan kurang percaya diri. Disitu peranan murabbi, memberi semangat dan peluang untuk mutarabbi belajar dan mengaplikasikan asas sebagai da’ie sang penyeru. Da’wah dan tarbiyyah ini fokusnya bukan untuk menghasilkan usahawan berjaya, chef berjaya ataupun mekanik berjaya. Namun untuk menghasilkan da’ie yang berjaya yang bukan hanya pandai menyampaikan malah pandai juga sebagai usahawan, chef dan mekanik walau masih dalam batas yang rendah.


Sogokan ‘da’wah bukan semata dapat dibantu dengan menyampaikan, namun orang membuat air didapur juga akan dikira menolong da’wah andai niatnya kerna Allah’ mungkin adalah betul untuk memikat hati para da’ie yang baru. Namun andai sudah bertahun-tahun dalam tarbiyyah, sogokan itu hanya akan mematikan sang da’ie di masa depan. Bukankah kita ingin menghasilkan da’ie yang bak pepohonan rendang lagi tegak dan kuat akarnya? Yang apabila benihnya dicampak di suatu tanah gersang, dia dapat menyuburkan tanah itu dengan akarnya yang kuat dan dapat pula bercabang-cabang dahannya? Asas bagi seorang da’ie itu tersangat penting untuk disuburkan didalam diri para mutarabbi. Biarlah dia menjadi da’ie yang usahawan, yang pandai memasak maupun pandai membaiki atau merekacipta. Andai sudah bertahun dalam tarbiyyah namun asas da’ie yakni dakwah fardiah dan sebagai penyampai masih belum selesai, itu merupakan fatal bagi sang da’ie sendiri.


Murabbi lah pembentuknya. Ramai yang berkata, kita akan bantu mereka yang masih belum dapat bercakap didepan orang ramai atau ‘memberi’ dengan meminta mereka menyampaikan andai ada daurah untuk mereka yang sudah maintain dalam tarbiyyah. Namun sayang, bila sampai waktunya yang dipilih tetap merupakan orang-orang yang sama, yang banyak bicaranya dengan alasan bahan itu berat atau penting. Persoalannya, mutarabbi itu tidak percaya diri atau sukar memahami bahan tarbiyyah? Atau apakah orang yang kurang percaya diri dalam menyampaikan boleh terus di’judge’ sebagai akan kurang dalam memahami bahan tarbiyyah berbanding orang yang memang mudah menyampaikan? Dan wujudkah bahan yang tidak penting dalam da’wah ini? dan andai kita sudah samatarafkan tahap kefahaman mutarabbi, kenapa masih ragu-ragu kefahaman sesetengah mutarabbi terhadap bahan yang sama diperoleh mereka? Yang banyak bicara itu mungkin sudah faham, namun yang tidak banyak bicara itu mungkin bukannya belum faham. jangan sampai satu tahap, mutarabbi yang ingin dibentuk itu menjadi selesa dirinya diabaikan dan menjadi suka hanya digelar ‘pembantu belakang tabir’ dan bukannya ‘da’ie yang membantu dibelakang tabir’.


Allahu’alam. Reality da’ie masa kini. Teguran itu bukanlah untuk mencari salah sesiapa melainkan cuba menasihati diri sendiri.


CP dari : JKB

Wednesday, July 7, 2010

Usrah ( aku dan dia )

" sis, maaf.. rasanya saya tak dapat join daurah esok."

" owh.. hurm. kenapa ye ?"

" sy tak sihat. semalam call kakak saya. dia kata better balik rumah. mak saya pun suruh saya balik rumah sebab dia dengar suara saya lain.."

" owh.. hurmm.."

Entah kenapa kelu rasanya lidah ini untuk terus berbicara. Hati rasa sebak. Rasa semacam tak dapat nak tahan rasa yang sedang bermundar mandir di dada ini. Rasa seakan ingin menitiskan air mata. Namun, ditahan saja.

hati mulai berbicara,

" teruknya aku, anak usrah sakit pun aku tak dapat detect. hurm.. kan best jadi Dr Hikari ! Tak dapat rawat depan2. rawat melalui conteng-conteng pun jadi"

sesekali..

" alamak! spoil. penat je aku rancang. fikir-fikir fasal dia, fasal proses penerusan tarbiyah dia."

" ala.. kalau dia nak.. boleh je. hurm, murabbi murabbi kita.. sakit2 pun datang jer daurah. "

Astaghfirullah hal a'zim. Muhasabah diri.

penat ?

Penat apa ??

Penat fikir fasal dia.. atau penat fikir fasal dakwah ni ??

Penat nak cari redha Allah ??

Astaghfirullah hal a'zim.

Tahu tak yang Allah tidak akan meredhai kita selagi mana kita tak redhai Allah. Lihat disekeliling kita ! Masih ramai yang tidak sedar dan tidak tahu fasal islam. Syariat islam dipermainkan, diperdagangkan. Masih ingin duduk diam dan berehat rehat ?!

sakit2 pun.. boleh jer datang daurah ?

ya ! sakit- sakit pun mereka datang daurah. hurm.

sebab mereka faham.

mereka sedar.

masalah umat itu lagi besar untuk difikirkan berbanding masalah sendiri.

Sakit yang melanda umat islam lebih memedihkan hati mereka berbanding sakit yang mereka alami sekarang.

Mereka sedar !

Mreka faham !

tapi..

anak usrah saya ...

masih baru..

masih belum faham. mungkin dia sedar umat sedang merana kesakitan. tapi, dia belum faham. ya! dia belum faham. saya tidak boleh paksa dia! cukup la dengan apa yang saya lakukan selama ini. maksudnya, cukuplah membuatkan mereka rasa terpaksa dengan setiap perkataan saya.


Tadi, masa kitorang sedang duduk-duduk di meja makan.

anak usrah saya mengungkap kata sambil menundingkan jarinya ke arah salah seorang sahabat . Dan sahabat itu.. sudah tentu la bukan diri yang teruk ini!

" wah.. dia sorang je yang perasan saya tak sihat dari tadi.."

" mestila.. selalu suara awak lain " sahabat yang dimaksudkan membalas.

Betapa saya rasa teruk yang berkali- kali lipat ganda sehingga saya tak lalu makan di buatnya. sejurus, saya mundar mandir. tidak tahu untuk makan ap.

" dia tak sihat.. hurm, mesti dia tak lalu mkan kan?"

tetiba..

Nampak dia beli makanan. Nasi lemak + daging masak sambal.

Terkejut! saya terkejut !

saya tegur dia.. " eh, awak makan sambal ? nanti bertambah pula sakit awak. "

" hehehe, sekali sekala ja."

" .... .." saya diam. tak tahu nak kata apa. bertambah hilang selera makan saya. risau-risau dia bertambah sakit bila makan yang pedas-pedas.

saya kembali ke meja makan. Saya lihat dia makan. serius. saya tidak tahu nak makan apa. mundar mandir, mundar mandir. sekali.. saya nampak dia makan. wahh.. rasa sedap pulak.

saya yang dari tadi tak tahu nak makan apa. saya terus beli nasi lemak . hahaha. saya beli sebab anak usrah saya makan nasi lemak. wal hal. jauh di sudut hati saya, saya nk makan bihun sup. hahaha.

Then, saya beli jugak la sup kosong. sebabnya. memang saya teringin nak makan makanan yang berkuah , terutamanya sup . sup kosong pun jadi la kan ?


Apa kena la dengan saya sekrang ni. Anak usrah saya sakit. saya pulak yang lebih-lebih tak nak makan.wal hal, dia ok je makan. walaupun dia makan tak habes. hehe.

Kalau la dia tahu yang saya sayangkan dia. hurm.



p/s : maafkan saya sangat tak caring tentang awak. awak sakit pun saya tak tahu.

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails
Loading...
Powered by Blogger.